ketika nurul diapit cowok..
begini nih kalo ngantuk sudah menyerang
kembang sepatu
kembang sepatu di taman ku kini tak nampak lagi, aku tidak tahu kemana dia pergi
EYD = Ejaan Yang Dibingungkan
Saya beberapa kali menemukan sebuah kata yang berbeda yang dipakai sejumlah media besar Indonesia dengan kamus bahasa besar Bahasa Indonesia. Misalnya kata kadaluwarsa, kata ini dipakai di media besar termasuk detikcom, tapi saat saya melihat di Kamus Bahasa Indonesia bukan kadaluwarsa tapi kedaluarsa. Manakah yang dipakai, ini sangat membingungkan. Apakah kita harus memakai kata yang biasa dipakai seperti kebiasaan media ataukah berdasarkan kamus.
Sebenarnya ini hanya contoh kecil saja,masih banyak lagi kata -kata yang berbeda penggunaan hurufnya. Seperti praktik, sebab di Kamus Bahasa Indonesia menggunakan kata praktek, tapi di media lainnya menggunakan kata praktik.
Sekali lagi ini hanya beberapa contoh kecil saja…
bagaimana seh mengembangkan berita…?
pageview, adalah salah satu patokan sebuah media online. pageview akan naik, kalao memang berita itu menarik dan banyak dibaca orang. lalu bagaimana mengembangkan berita yang dianggap menarik dan bisa mengangkat page view…
untuk mengembangkan berita, bukan effort yang mudah.. jurnalis dituntut memiliki instuisi yang kuat, untuk mengembangkan sebuah berita, apakah ini menarik atau tidak.. selain itu, logika berpikir jurnalis juga harus bermain. penting untuk mengembangkan hubungan kausalitas, mengapa ini begini, mengapa begitu,
kalau kata wapimred detikcom arifin asydhad, adalah bagaimana kita memupuk keresahan kita.. karena dari keresahan muncul ide-ide untuk mengembangkan berita. aku sih setuju soal itu, cuma ada satu lagi selain keresahan, rasa curiga yang dalam terhadap suatu fakta juga merupakan kunci. kita tidak harus percaya begitu saja apa yang diucapkan oleh seorang sumber. teliti lagi latar belakang sumber itu serta background sebuah fakta
mengapa begitu? karena sebuah peristiwa itu biasanya ada yang tidak berdiri sendiri, pasti ada faktor di luar jangkauan pikiran manusia awam bagaimana peristiwa itu terjadi.
contoh, ketika si fulan mengalami kecelakaan sepeda di jalan serayu. mungkin orang menganggapnya dia jatuh karena kutrang hati-hati. seorang jurnalis harus berpikiran, bisa jadi dia jatuh karena ada lubang atau memang dijatuhkan orang.. ini hanya contoh saja..nah, kalau karena sebab kedua dan ketiga, kita bisa mengembangkannya lebih lanjut…
tapi bagaimana mengembangkan sebuah berita di media online..? secara kuantitatif, kita bisa melijhat dari jumlah pembaca. sebab sebuah berita di media online mudah sekali alat ukurnya.. kita bisa melihat dari lognya, berapa sebenarnya page viewnya. selain itu kita juga bisa melihat dari tanggapan serta komentar pembaca terhadap berita itu. dari situ kita bisa menngembangkan sebuah berita.
selain kuantitatif juga ada unsur kualititatif, sejauh mana berita ini dianggap punya nilai berita yang bagus… mudah lah untuk menentukan bagaimana berita ini menarik karena para jurnalis pasti sudah mengetahui berita yang menarik dari nilai berita, yaitu significan, magnitude, prominence, proximity, human interest dll dah..
gimana seh bikin blog dan email….
ini cerita unik selama saya di detikcom. ada rekan saya, (tak perlu saya sebut namanya lah.. gak enak juga), sekitar tahun 2001 mengajak saya ke main ke warnet di megaria. saya pikir mau buka detikcom atau mau browsing cari informasi di internet lah.. eh ternyata rekan saya ini ingin membuat email, lah saya kaget, jadi selama ini dia tidak memiliki email.. waduh, padahal di kerja di sebuah portal berita terbesar seperti detikcom..
dia bilang sih, buka internet bisa cuma emang lupa bikin email.. what ever lah, tapi aku menghargai banget upaya dia yang mencari tahu.. cuma sebentar kok, mengajari dia membuat email..
dan ternyata kejadian serupa terulangi lagi.. hari ini, dia mendatangi meja saya.. eh gimana seh, buka blog.. kok gue udah daftar tapi belum bisa login.. setelah dicek, oalah ternyata dia lupa mengklik url konfirmasi sehingga tidak mungkin melakukan login…
mar, adi, yadi atau siapa…
“Mar, kamu sibuk gak, susah sekali menghubungi kamu sekarang ya? tanya mbak Ira Koesno, bekas anchor SCTV dengan suara halus,… Kak Adie, kamu masuknya aku tukar ya,” kata Mbak Nurul Hidayati, redaktur eksekutif detikcom dengan suara merdu juga… Adie, mau kemana malam ini,” tanya Peter, sahabat ku. “Halo mas Adi lagi dimana niy,” that Erik said..
“Yadi, kamu besok bisa ke PLN gak,” that my mother said
Hmm terlalu banyak panggilan buat aku… dulu aku memang dipanggil mar, mungkin karena itu nama mar aku pakai di kode berita yang ku tulis di detikcom.. sampai sekarang teman-teman di kantor juga panggil aku mar, tapi ada juga sebagian yang panggil aku adi..
Tapi teman-teman gaulku cukup familiar memanggil namaku adie.. tapi di rumah aku dipanggil yadi.. Bingung juga neh terlalu banyak panggilan… serasa gak konsisten gitu..
hmm, tapi masa bodoh lah, apa arti sebuah nama kata William Shakesprear
kecambah
bulir gabah tak selamanya menjadi cikal padi. tapi padi bisa menghasilkan bulir gabah. mengutip, pernyataan seorang guru, jangan lah engkau menjadi bulir gabah yang nista. “ah, itu kan hanya pernyataan,” pikir ku dalam hati.
gabah bisa menjadi bibit padi, jika perlakuan yang didapatkannya memang baik. lalu apa bedanya dengan kecambah, apakah kalau tidak diperlakukan dengan baik tidak akan berubah dari biji kacang hijau menjadi kecambah. toh hanya dengan direndam air, biji kacang hijau itu akan menjadi kecambah….
berarti bukan persoalan perlakuan yang utama, tapi bagaimana cikal dan bakal dari keduanya…
dititah nyanyi pak menteri…
nyanyi sebenarnya bukan hobi gue.. karena hoby gue tuh ya mancing ama baca. tapi ini harus gue lakuin gara-gara titah pak menteri… 2 tahun silam waktu masih liputan di energi, kebetulan ada acara di departemen esdm. usai wawancara dengan pak purnomo, aku langsung mojok di belakang sambil menulis berita lewat PDA (yang bayarnya nyicil pake kartu kredit) trus langsung dikirim ke irna and kokom di kantor detikcom (semenjak liputan di ekonomi, emang gue rajin kirim berita via email dibandingkan laporan, soalnya menyangkut soal angka, salah sebut bisa berabe, jadi lebih aman pake email) .
lagi asyik bikin berita, tiba-tiba pak pur, manggil,. itu jangan bikin berita terus, sini nyanyi.. gelagapan pasti.. pernah sih karaoke tapi suara gue ngepas mau gimana lagi..
pertama nolak, tapi pak pur malah terus mendesak,.. mau gak mau maju ke depan.. trus nyanyi.. haduh, mana lagunya di buku gak ada yang gue kenal lagi.. akhirnya nyanyilah, dengan lagu senja di kaimana… lagu ini gue inget, karena bokap sering nyetel waktu rumah kita masih di kontrakan..
tapi untungnya, suara gue yang jelek ketutup ama bunyi musik organ tunggal.. halah pengalaman paling memalukanlah.. karena pemain organ tampak kebingungan mengikuti nada gue yang naik turun…
he he pengalaman memalukan lah.. tapi dari situ pak pur langsung kenal…
kasih dah….
gue bete bgt ama iklan ini… iklannya telkomsel, yang bunyinya kasih dahhh… gue bingung, bahasa macam apa ini. apakah telkomsel ingin menciptakan sebuah gaya bahasa baru yang mungkin akan ditiru oleh kalangan muda… kayak jangan gila donk, atau cape deh atau yang pernah dipopulerkan grup lawak API bajaj… atau malah tren gaya bahasa cinta laura…
kenapa sih, iklan sekarang gak memberikan pendidikan dengan bahasa yang baik dan benar… memang sih dengan bahasa aneh itu trus, iklan menjadi mudah dikenal.. tapi mestinya iklan juga bisa mencerdaskan bangsa, kayak iklan bentoel yang i love the blue of indonesia.. iklan ini memberikan gambaran betapa indahnya alam nusantara…
toh iklan seperti ini tetap diminati jutaan pemirsa tv, bahkan iklan ini sempat memenangkan award adipariwara..
neh, tugas bagi pembuat iklan, selain membuat iklan bagus dan mudah diingat, juga harus mencerdaskan bangsa ini yang masih dilanda kebodohan.,.. kasih dahhhhhhhhhhhhhhhh

